Hari hari Rindu 7
By rohmah cipzz
Pagi ini, setelah semalam rindu menangis karena kisah cinta nya gak sesuai harapan. Ia mencoba untuk memulai hidup baru dengan semangat baru. Hari ini adalah hari baru jadi ia gak mau
terus2 an terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Meskipun hatinya belum pulih seluruhnya. Puing2 hati yang hancur belum terbaiki seutuhnya. Meskipun begitu gak harus ia jadikan hari2 kedepannya jadi hari yang buruk dan suram. Rindu coba melakukan hal terbaik yang ia bisa. Ia keluar dari kamar setelah semua siap untuk sarapan. Mama dari dapur udah berkoar-koar dari tadi mengajak sarapan. “gimana pagi kamu sayang?” tanya mama.
“amazing ma” jawab rindu coba antusias.
“kamu udah bisa move on honey. Mama bangga sama kamu. ayo kita sarapan. Mama gak mau kamu telat ke kampus”
Habis sarapan, rindu pamit ama ortu dan keluar menuju halte. Papa mau mengantar rindu karena hari ini gak begitu sibuk tapi rindu menolak. Ia udah biasa naik bis dan menunggu di halte jadi lebih baik papa nya cepat sampai kantor dan melakukan hal yang lebih penting kilahnya. Di halte.. yah ketika nunggu bis yang cukup lama, rindu tiba2 inget bara. Selalu saja dia. gak bisa dipungkiri rindu masih cinta ama bara. Rasa cinta gak bisa begitu mudah hilang bukan? Gak bisa satu dua hari. Ini butuh proses yang mungkin bisa panjang. Rindu menghembuskan napas pelan. Sekali lagi ia gak boleh lemah.
“riiinnnn” panggil nina. “bareng donk”
“yuk”
“gak sama bara nih?”
“oh gak hehe”
Bara yang hari ini gak minat kuliah, hatinya kalut. Dia pengen teriak sekencang-kencangnya dan pengen menenangkan diri. Akhirnya dia pergi ke pantai ulala. Disitu pantainya anak muda, banyak sepasang kekasih yang suka berkencan disana. Tapi itu gak membuat bara mengurungkan niat untuk pergi kesana untuk menenangkan diri. Ketika sampai, bara membasahi kakinya dengan air pantai dan merasakan hembusan kuat angin yang menerpa wajahnya. matanya mulai berkaca-kaca karena dia mulai mengingat rindu. Waktu sebulan pacaran ia pernah mengajak rindu maen ke pantai ulala ini. ia dan rindu menulis nama mereka berdua di pasir. Bara mencarikan kerang untuk rindu agar ia simpan. Apakah dia masih menyimpan kerang itu? tanya bara dalam hati.
Lalu dia naik ke tebing yang gak begitu tinggi. Dulu dia juga mengajak rindu naik ke tebing itu. angin disitu lebih sejuk dan kuat. Seakan terbang kalo berdiri di ujung tebingnya. Bara melamun disana. Memandangi lautan lepas.. awan2 yang menggantung. Dan angin yang mengiringi setiap tetes air matanya. Dia bebas menangis sampe kapan pun disini. berteriak kayak orang gila pun bebas karena di tebing ini gak banyak orang yang mengunjungi. Berkali-kali ia mengusap air matanya.
@@@
Di kantin kampus..
“jadi kalian udahan? Kamu gak nyesel dengan keputusan yang kamu buat rin?” tanya nina setelah rindu menuntaskan cerita cintanya yang kurang beruntung.
“aku yakin. Trus gimana lagi? dia mau di jodohin. Pilihan ortunya mungkin lebih baik dari aku nin. Jadi aku harap dia ngerti dan bahagia dengan hidupnya yang akan ia jalani nanti” jelas rindu.
“aku gak yakin dia bakal bahagia. Nyatanya hari ini dia gak masuk”
Oh iya, rindu baru sadar kalo hari ini gak melihat batang hidung bara. Apa gara2 rindu dia gak masuk kuliah hari ini? apa dia tanya ke rafi aja sahabat nya bara? Ah gak bisa. Kan gak boleh ada perhatian lebih lagi ama bara. Sekarang mereka Cuma teman sekelas gak kurang dan gak lebih. Jadi biarlah dulu rasa penasaran ini ada.
Siangnya Pulang kuliah..
“rin..” panggil rafi. Rindu yang lagi jalan cepat menuju halte langsung menoleh.
“ada apa raf?”
“kamu gak ketemu bara? Hari ini dia gak ada kabar” tanya rafi cemas.
“em aku gak tau raf. Aku belum menghubungi dia lagi soalnya. Yaudah aku pulang dulu” rindu buru2 pergi meninggalkan rafi karena gak mau ditanya2. Dia gak mau lebih banyak orang lagi tau tentang putusnya hubungan mereka.
Rindu nunggu bus di halte sambil termenung. Disekitarnya ada bapak2 dan ibu2. Juga ada mahasiswa dan anak sekolah yang juga mau naik bis. Bapak yang duduk disebelah rindu agak bingung melihat rindu yang tanpa ekspresi. Ada kekosongan di matanya saat ini. gak tau apa yang dia pikirkan.
“jangan melamun dik” kata bapak2 itu. dari penampilannya kayaknya dia dosen. Rindu tersentak dan menyadarkan diri dari lamunannya.
“oh iya pak” jawab rindu singkat.
“cinta memang misterius. Tapi nantinya akan ada keindahan yang datang. Hanya masalah waktu, bersabar saja dan jangan melamun lagi” kata bapak itu lagi. wah rindu heran, ada juga ya yang peduli meskipun gak kenal orangnya.
“iya pak makasih. Bapak kog tau saya sedih karena cinta?”
“karena sepertinya saya melihat ada kesedihan yang dalam dari mata kamu. oh bus sudah datang”
Rindu menoleh dan menaiki bus. Beberapa menit di dalam bus, hujan turun deras. Rindu mengecek tasnya apakah dia bawa payung, syukurlah dia bawa rupanya. Dengan melihat ke luar jendela, ia melihat jalan2 yang basah. Tiba2 dia inget pas dulu pernah keujanan ama bara di taman. Lalu mereka mencari tempat berteduh di pendopo kecil yang letaknya di pojok taman. Disitu ia bercanda dan bercerita tentang hal2 konyol ama bara. Mereka yang memang suka bercanda ketawa2 bahagia. Ditemani hujan deras yang mengguyur. Sambil menunggu hujan reda, bara mencarikan teh hangat untuk mereka berdua. Inget hal itu rindu kembali meneteskan air mata. Memang gak mudah melupakan kenangan indah bersama seseorang yang ada dihati. Dia cepat2 mengusap air mata dengan tangan. Gak mau orang lain lihat.
Inget kata2 bapak tadi, rindu kembali harus memikirkan hubungan mereka. Benarkan akan datang kebahagiaan itu? untukku dan bara? Aku harap Tuhan kasih yang terbaik.. oh ya, dimana bara ya? kata rafi gak ada kabar hari ini. apa dia sakit? ... ah, aku takut kerumahnya. Harus gimana? rindu bingung mesti gimana.
Di pantai ulala..
Hujan deras juga mengguyur pantai ulala siang ini. bara yang masih terduduk di tepi tebing gak peduli dengan hujan yang lagi deras2nya. ia masih bergeming dan beberapa kali memanggil nama kekasih hatinya. Rindu...rindu.. tau kah kamu hari ini aku sangat merindukanmu.. batinnya sesak. Siang ini ia menangis bersama hujan. Gak akan ada yang tau kecuali dia sendiri dan Tuhan.
Sementara itu di kedai makanan yang cukup jauh dari tebing. ada beberapa orang kumpul disana untuk berteduh dan makan. Seseorang melihat bara yang masih bergeming di antara hujan deras yang mendera.
“eh dia sadar lagi hujan gak sih? kok gak pergi2” kata seorang cowok ama temennya.
“lagi galau kali. Makanya gak peduli ada hujan. Aku sempet liat dia dari tadi pagi disitu terus”
Bara masih memandang kosong ke hadapannya. Badannya mulai menggigil tapi dia masih gak peduli. gak akan ada yang mengomelinya karena tingkahnya ini, yah kecuali mamanya. Tapi mama nya gak tau ia ada disini. seandainya rindu tau pasti dia.. ah sudahlah.. pikir bara. Rindu sekarang udah gak memikirkan dia lagi.
Dua jam hujan mendera, bara masih gak berkutik.
Di kamar rindu...
Rindu menerawang ke luar jendela melihat hujan. Pikirannya masih gak tenang dengar kabar dari rafi tadi. kemana dia? baru aja rafi sms, tanya lagi tentang bara. Rindu mengusulkan agar rafi cari aja ke rumahnya. Tapi ternyata bara gak ada dirumah. Makin bikin rindu takut kalo terjadi apa2 ama bara. Sungguh deh ia gak bisa membohongi diri sendiri kalo dia masih selalu saja mengkhawatirkan bara. Apa yang harus aku lakukan Tuhan?
Hujan dua jam berlalu dengan keresahan hati..
Di pantai ulala..
Ketika sekitar lima belas menit setelah hujan reda, bara beranjak dari duduknya dan turun dari tebing dengan badan yang masih basah kuyup. Ia gak peduli termasuk jika ada orang lain yang menilainya gila. Ya, dia memang sudah gila pikirnya. Waktu mau sampe di bawah tiba2 bara kehilangan keseimbangan. Karena medan yang masih licin sehabis hujan bara terpeleset dan jatuh berguling. “aaaaaggghh” teriaknya yang kemudian pingsan.
Orang2 yang masih nongkrong di kedai makanan langsung menoleh ke arah tebing. seorang yang memperhatikan bara tadi langsung berdiri dan berlari ke tebing di ikuti temannya. Keduanya yang bernama adi dan dodi segera berusaha menyelamatkan bara.
“mas.. mas” panggil adi. “dia pingsan dod. Kita langsung bawa kerumah sakit yuk” adi dan dodi menggotong badan bara menuju mobil dan segera menuju rumah sakit terdekat. Dengan wajah yang sama2 khawatir adi dan dodi berharap orang yang mereka selamatkan gak apa2.
Sampai dirumah sakit petugas langsung menangani bara yang kepalanya udah bercucuran darah. Menjelang senja.. adi dan dodi yang masih menunggu di ruang tunggu resah. Kemudian dokter keluar dari kamar yang ada bara.
“ada keluarga pasien?” tanya dokter.
“kami bukan keluarganya dok. Kami yang bawa dia kesini. tadi kami udah telpon ortunya sekarang mereka lagi perjalanan kesini” kata dodi.
“gimana keadaannya dok?” tanya adi.
“dia mengeluarkan banyak darah. Butuh transfusi darah yang sesuai. Nanti kalo orang tua nya sudah datang suruh menemui saya ya”
“baik dok”
Setengah jam berlalu, ortu bara udah sampe di rumah sakit.
“kamu yang tadi telpon saya?” tanya papa bara.
“gimana keadaan anak saya bara?” tanya mama bara kawatir.
“iya om. Anak om namanya bara? Dia butuh tranfusi darang . Kata dokter kalo ortu nya udah datang bisa segera menemui dokter diruangannya”
“baik, terimakasih nak. Ini untuk kalian sebagai tanda terima kasih” papa bara memberikan sejumlah uang untuk adi dan dodi.
“oh gak usah om. Kami gak mengharap imbalan. Kami permisi dulu ya om, tante, moga bara cepat sembuh” pamit adi dan doni kemudian.
“syukurlah masih ada anak muda yang hatinya tulus” papa dan mama bara segera menuju ruang dokter.
Setelah ortu bara udah menyetujui tranfusi darah oleh bara, proses pun segera dilakukan. Mama bara masih kawatir dan takut terjadi apa2. Sang papa berkali-kali menyuruhnya tenang.
Tengah malam..
“rindu... rindu” bara mengigau memanggil nama kekasih hatinya. Papa dan mama bara terbangun karena kaget. Sepertinya anaknya udah mulai sadar.
“rindu..” bara masih mengingau. Gak lama, jarinya bergerak dan matanya mulai bergerak untuk terbuka.
“bara.. kamu sudah sadar nak?” tanya papa. “cepat panggil perawat pa” seru mama. Papa menekan tombol pemanggil perawat. Gak lama perawat datang untuk mengurus bara.
“bara.. ini papa dan mama” kata papa saat suasana udah membaik.
“rindu mana pa?”
“siapa itu rindu bar?” papa bingung.
“bara, lebih baik kamu istirahat ya. jangan berpikir yang aneh2” sela mama. Bara kembali berkaca-kaca. Papa dan mama kembali duduk di kursi dekat ranjang bara. Bara memutuskan untuk tidur.
@@@
Paginya...
“pagi ma pagi pa” sapa rindu di ruang makan.
“pagi juga honey”
“mau papa antar pagi ini?”
“gak pap.. aku lebih suka berangkat sendiri hehe”
“anak papa memang istimewa”
“aku berangkat dulu ya” pamit rindu ketika selesai sarapan.
Kampus..
“rin...” panggil rafi. Ya ampun, rafi lagi batin rindu. Apa bara masih belum ada kabar. Ah masak iya? Tiba2 rindu resah gak karuan.
“bara belum ada kabar rin” kata rafi.
“mungkin dia lagi sibuk banget jadi gak sempet kasih kabar kamu. mungkin hari ini dia udah mau masuk”
“mungkin? Kok kamu gak yakin? Kamu beneran gak tau gimana kabarnya bara?” tanya rafi mulai ngrasa ada sesuatu yang salah.
“em gak tau. Ya udah aku masuk dulu”
“kenapa kamu dari kemarin menghindar terus kalo ditanya tentang bara?” tanya rafi sebelum rindu melangkah menjauh. Rindu Cuma diam dan melanjutkan jalannya.
bersambung