Bunga terakhir
By rohmah cipzz
“nih” kata sandy saat memberikan sekuntum bunga lily ke rumi sahabatnya dari kecil.
“kamu gak pernah bosan kasih bunga nya?” tanya rumi.
“gak ah. Asik kog kasih kamu bunga. biar kamu seneng” jawab sandy sambil menaikkan kedua alisnya.
“ya udah, trims ya. kamu teman terbaik”
@@@
Selama ini, rumi gak tau kalo sandy sakit kanker perut. Sakit itu udah lama dia derita sejak sekolah sma. Sandy gak berani jujur ama rumi karena gak mau membuatnya sedih. Baginya senyum rumi adalah kebahagiaan buatnya. Rumi yang selalu diberi bungan tiap seminggu sekali oleh sandy pun gak terlalu memusingkan hal itu. sandy memang sahabatnya yang paling baik dan suka kasih kejutan. Ibu sandy punya toko bunga yang udah punya banyak pelanggan sedangkan ayahnya udah meninggal bersama adiknya lima tahun lalu.
Sekarang mereka sama2 menempuh pendidikan di universitas swasta. mereka berdua ambil jurusan sastra.
“sandyyy.. sandyy” panggil rumi ketika udah sampe dirumah sandy. Mereka selalu berangkat bareng dan pulang kuliah bareng. Ibu sandy keluar dengan khawatir.
“rumi, sandy gak masuk kuliah hari ini. dia sakit. Tolong nanti ijinin ya?”kata ibu sandy.
“oh sakit apa tan? Aku boleh liat sekarang?”
“nanti aja ya pulang kuliah. sandy lagi istirahat”
“ya udah tan. Aku berangkat dulu. nanti aku ijinin sakit.”
Rumi berjalan menuju halte sendirian, dalam benaknya terus bertanya sandy sakit apa ya? kok gak curhat?
@@@
Pulang kuliah.. rumi jenguk sandy yang kini terbaring lemah di kasurnya.
“hai san. Gimana keadaan kamu? aku bawain buah nih” seru rumi ketika udah di kamar sandy dan menyaksikan sandy lagi tiduran.
“demam aja ni. Trims udah jenguk”
“okey,, cepet sembuh, biar bisa kuliah bareng lagi dan jalan2 bareng lagi”
“em rum. Apa kamu gak pengen cari cowok?” tanya sandy tiba2.
“kok tiba2 ngomongin soal cinta? aku belum nemu yang cocok” rumi hanya suka satu cowok. Dan orang itu adalah sandy. Yang tiap hari kasih bunga dan selalu tersenyum tulus. selalu mengerti dan ada. Tapi, menurut rumi, sandy menganggapnya sahabat, gak lebih. Rumi kadang sedih dengan kenyataan itu tapi mungkin emang itu udah jalannya.
“tanya aja. kamu betah banget menjomblo”
“kamu juga tau. udah deh ganti topik aja” rumi beralih ke buku komik milik sandy dan coba membacanya. Sandy memandanginya dengan tatapan sayu. Gimana caranya bilang ke kamu rumi? Aku gak sanggup jujur. batin sandy getir.
@@@
Esoknya. Sandy udah terlihat lebih segar. Rumi yang jalan menuju rumahnya untuk berangkat bareng udah melihat sandy yang pake sepatu di teras rumah.
“pagi san” sapa rumi semangat.
“pagi juga rum. Semangat banget kamu”
“iya lah. Kan kamu udah kembali hehe”
“hehe. yuk berangkat” sandy merangkul pundak rumi dan mereka jalan menuju halte dengan penuh obrolan dan cadaan.
Jeda kuliah.. rumi berniat mengajak sandy ke perpustakaan.
“ayo ke perpus” ajak rumi ke sandy.
“aku malas”
“yah gak asik. Aku mau cari buku buat tugas. Kamu gak mau cari sekarang sekalian. Ayolah” rumi menarik tangan sandy. Mau gak mau ia harus ikut ke perpus. Baru setengah jalan, tiba2 sandy mengeluhkan perutnya sakit. Mereka berhenti berjalan. Rumi yang melihat sandy kayak kesakitan langsung panik. Setaunya sandy udah sembuh.
“san,, perut kamu sakit? Mules ya? mau pup? Ayo aku antar ke toilet” kata rumi cemas. Sandy menggeleng.
“kamu tunggu disini. aku mau ke toilet dulu” sandy menuju toilet dengan masih memegangi perut. Rumi yang gak tenang mengikuti sandy sampe depan toilet pria. Disana rumi gak krasa kalo sandy masuk kamar kecil tapi ia berdiri di depan westafel dan oh ya ampun, rumi melihat sandy muntah darah.
“san. Kamu berdarah” seru rumi. Sandy kaget karena rumi tiba2 ada di ambang pintu masuk toilet.
“oh gak papa kog”
“nih kamu minum dulu” rumi menyodorkan air mineral yang selalu dia bawa kemana-mana.
“trims”
“kalo kamu belum fit, istirahat dirumah aja. hari ini kan tinggal satu makul, jadi ntar aku ijinin lagi”
“aku bosen dirumah mulu. Gak ada yang bisa diganggu”
“sakit aja masih hobi ganggu orang. Ato kamu ke klinik kampus aja”
“aku gak papa rumi. Jangan lebay”
“haha. Kamu tadi muntah darah. Siapa yang gak kawatir?”
“yuk ke perpus” sandy menarik tangan rumi menuju perpus.
@@@
Minggu pagi..
“bunga spesial buat nona imut yang hari ini berantakan hehe” kata sandy sambil menyerahkan sebuket bunga bugenfil yang cantik. Rumi yang baru bangun tidur agak kaget. Kini ia emang terlihat berantakan karena belum mandi.
“tumben kasih banyak. Biasanya sekuntum”
“yah siapa tau aja kan ini terakhir kali aku kasih bunga”
“heh kog kamu ngomongnya kayak mau pergi aja”
“hehe. jalan2 yuk”
“kamu udah fit?”
“udah banget. buruan mandi. Aku tunggu sini ya” sandy duduk di kursi teras rumah rumi.
“oke” rumi masuk rumah dan bergegas mandi.
@@@
Seharian mereka jalan2 mengelilingi kota. Beli permen kapas. Kue putu. Telur gulung kesukaan sandy. Sandy membelikan balon warna pink bentuk hati buat rumi. Di balon itu ada tulisan i love you.
“oh bilang aja kamu selama ini cinta ama aku san” canda rumi.
“ge-er nya” balas sandy. Tapi emang aku cinta sama kamu sih rum.. sandy tersenyum dalam hati.
Habis beli jajanan di taman dekat kompleks, mereka kemudian cabut ke toko buku langganan rumi dan sandy. Setelah sampe, rumi langsung menuju rak novel dan sandy menuju rak komik. ketika rumi lagi di rak novel lainnya, sandy juga menuju rak novel yang tadi di lihat oleh rumi. Disitu bagus2 dan baru2 novelnya. Sandy mengambil satu yang menurutnya pasti arumi suka, dia ambil lalu ke kasir tanpa sepengetahuan rumi dan segera menyimpan novel itu di ranselnya setelah selesai membayar. Sandy bermaksud mau kasih kado buat rumi karena baginya siapa tau ini terakhir kalinya dia jalan2 ama cinta pertama. Rumi.
“ayo ke kedai es krim langganan” ajak sandy. Rumi setuju. Kalo jalan2 mereka gak pernah absen mampir ke kedai eskrim mak nyus nya pak salman. Disitu wuenak sekali eskrimnya, punya cita rasa yang khas dari eskrim2 lain.
“hmm.. yummy” seru rumi ketika es krim pesanannya udah datang. “mari serbuuuuu” heboh rumi. Sandy yang di depannya tersenyum senang. Senyum rumi selalu buat dia gak sampai hati untuk jujur tentang kesehatannya yang sesungguhnya.
“yeah serbuuuu” jawab sandy ikutan heboh.
Gak krasa dari pagi sampe sore mereka habiskan jalan2. Hari yang menyenangkan bagi rumi dan sandy.
“aku masuk dulu ya san” pamit rumi ketika udah di depan rumahnya.
“iya. Aku pergi dulu ya, daa” sandy melambaikan tangan. Gak tau kenapa rumi merasa gak enak hati ketika dengar sandy bilang pergi dulu. kayak ada yang aneh. kayak benar2 mau pergi jauh. Entahlah.. rumi coba gak mikir macam2, sampe kamar, dia meletakkan balon bentuk hati pemberian sandy di dekat meja belajar. Agar kalo dia lagi nulis diary ato baca novel selalu inget sandy.
@@@
Beberapa hari berlalu..
Sandy terlihat bermata bengkak pagi ini. semalaman ia gak bisa tidur, badannya terasa gak nyaman. apa ini saatnya. Sandy berat untuk bangun dari tidurnya.
“san. Gak kuliah?” tanya mamanya. Sandy masih diam. Cuma melihat sekilas ke arah ibunya lalu menggeleng pelan.
“badanku gak enak lagi ma” jawab sandy.
“ke dokter aja yuk”
“aku gak papa ma. Mungkin karena kecapekan aja”
“ya udah mama ke toko bunga dulu ya?”
Beberapa jam setelah mama sandy pergi ke toko bunga. tiba2 sandy merasa harus bangun karena ada sesuatu yang mau keluar. Darah.. sandy muntah darah lagi hari ini. entah untuk yang kesekian kalinya. Sandy segera menuju toilet. Belum sampe toilet badannya udah gak sanggup lagi bergerak. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki sandy menuju sofa dan membaringkan tubuhnya. Beberapa detik kemudian kesadarannya hilang.
Jam 12 siang. Entah karena ikatan batin atau apa. Ibu sandy tiba2 pengen pulang kerumah. Sekalian membawakan makan siang untuk sandy.
“sandyyy... mama bawain makan siang nih. Kamu maka” suara ibu sandy terpotong, ia tercengang melihat sandy yang terkapar di sofa. Buru2 ibu sandy membangunkan sandy tapi ia tak menyahut. Ia langsung menelpon ambulan.
Suara ambulan berdenging memekakkan telinga bagi yang di lewatinya dengan jarak dekat. Sampe dirumah sakit. Sandy buru2 dibawa ke ruang ugd. Kondisinya kritis dan jantungnya melemah.
Satu jam berlalu..
“tante, sandy kenapa?” tanya rumi ketika udah sampe di rumah sakit bareng ibunya.
“gak tau rum. Tadi siang sepulang tante dari toko, tiba2 sandy udah gak sadarkan diri di sofa. Dan dia muntah darah lagi”
“apa sandy sering muntah darah tan?”
“iya rum. Sandy gak pernah cerita ke kamu?” jawab mama sandy. Rumi menggeleng. Emang ada apa? Batinnya.
“sebenernya sandy kenapa tan? Dia sama sekali gak pernah cerita tentang kesehatannya. Kalo ditanya selalu bilang gak papa”
“tante harap kamu jangan sedih. Udah lama sandy kena kanker perut. Akhir2 ini kondisinya sering ngedrop”
“ya Tuhan. Kanker? Stadium berapa tan? Sandy benar2 menyimpan itu semua”
“akhir” jawaban tante arni membuat jantung rumi berhenti saking gak nyangkanya. Kenapa dia gak pernah cerita? Demi Tuhan dia sahabatnya tapi kenapa sandy gak mau cerita? Rumi merasa gagal jadi sahabat yang baik.
Esoknya..
Sandy bersikeras mau pulang kerumah, tapi dokter belum mengijinkan. Tante arni dan rumi bingung. Pasti sandy tersiksa jika terus berdiam diri di rumah sakit ini pikir mereka. Tapi tetap kondisi sandy masih lemah. Baru keesokan harinya ketika kondisi badan sandy udah mendingan, ia diperbolehkan pulang.
@@@
“kenapa gak pernah cerita san?” tanya rumi ketika sandy udah sampe rumah keesokan harinya. Ia berbaring di kasurnya sambil menatap rumi.
“aku gak mau melenyapkan senyum ceria mu” jawab sandy sambil tersenyum. Rumi yang duduk di pinggir kasur sandy meneteskan air mata. Gak nyangka semua ini terjadi. Sandy sahabatnya sakit parah dan kata dokter sandy gak punya banyak waktu lagi.
“kita sahabat. sahabat itu saling berbagi. Kamu gak boleh memendamnya sendiri tanpa sahabat san.”
“iya maaf ya aku gak jujur. kamu harus istirahat rum, kamu pasti capek”
“ya udah. Kamu baik2 ya. aku pulang dulu”
@@@
Sore sore, saat rumi lagi sibuk bantu nyokap di dapur, sandy memanggil dari arah teras rumah.
“rumiiii...” panggil sandy. Rumi yang mendengar langsung beranjak ke teras.
“hei san. Kamu udah baikan?” tanya rumi.
“iya. Eh jalan2 yuk” kata sandy sambil masih memegang erat bunga mawar merah yang ia sembunyikan di belakang punggung. Sengaja agar rumi gak tau.
“tapi beneran kamu udah sehat? Jangan sampe kamu ntar ngedrop lagi”
“gak papa. Yuk”
“iya deh. aku pamit nyokap dulu” setelah pamit mereka beranjak menuju taman dekat kompleks.
“nih buat kamu” kata sandy sambil memberikan bunga yang tadi ia sembunyikan.
“baru kali ini kamu kasih mawar merah. Romantis amat”
“yah sekali-kali biar ada variasi”
“yuk beli telur gulung kesukaanmu” rumi menarik tangan sandy. Mata sandy memandangnya dengan sayu. Mungkin.. ini terakhir kalinya ia makan telur gulung bareng rumi.
“rum. Apa pun yang terjadi nanti. Kamu harus terus melanjutkan hidupmu” kata sandy lirih. Rumi terkejut sambil menoleh.
“apaan sih? jangan aneh deh”
“pokoknya kamu harus melanjutkan hidupmu. Janji donk” sandy mengacungkan jari kelingkingnya. Rumi tersenyum dan mengaitkan jari kelingking nya.
“janji”
Menjelang magrib mereka udah kelar jalan2 sore. Sandy mengantar rumi sampe kerumahnya dan ia pun juga beranjak dari situ untuk pulang kerumah.
Aku cinta kamu rum. Gumam sandy ketika rumi udah menghilang dibalik pintu rumah.
@@@
Tengah malam..
Disaat mama sandy terlelap tidur. ia muntar darah berkali kali. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Sandy udah gak bisa menahan ini semua. Dengan sekuat tenaga ia coba menuju kamar mandi agar darah gak terlalu banyak mengotori kamar. Ketika darah yang keluar udah reda, sandy kembali ke kamar. Membaringkan tubuhnya yang lemah. Jantungnya berdetak makin pelan. Mungkin udah waktunya.. batin sandy. Saat sunyi ini.. maaf aku harus pergi rumi. Maaf aku belum sempat jujur tentang perasaanku kepadamu. Sandy terpejam.
@@@
Paginya...
“sandyyy.... udah pagi nak” seru tante arni membangunkan anaknya untuk sholat subuh. Karena dipanggil sandy gak bangun juga. Ia memegang tangan sandy. Tapi kenapa dingin? mama sandy mulai merasa gak enak. Ia periksa ternyata jantung sandy udah gak berdetak.
“sandyyy... jangan tinggalin mama nak. sandyyy” teriak tante arni histeris.
Di pemakaman umum.
Rumi terasa perih dihatinya. Sandy.. sahabat lamanya. Gak akan pernah terlihat lagi. gak akan ada sahabat seperti dia lagi. separuh hati rumi telah pergi. Ia merasa hidupnya udah gak utuh lagi. orang2 telah meninggalkan makam sandy kecuali rumi. Mama rumi udah membujuknya untuk pulang karena sudah sore dan langit mendung. Gak lama kemudian rintik rintik air hujan membasahi tanah pemakaman. Rumi masih terisak. Biar dia menangis bersama hujan. Ia gak peduli. gak ada sahabat seperti sandy.
Malemnya..
“mama tau ini berat. tapi kamu gak boleh meratap. Hidup terus berjalan. Sandy udah bahagia disana. Dia pasti jadi sedih kalo liat kamu sedih gini” hibur mama rumi sambil memegang pundaknya lembut. rumi hanya mengangguk. mama keluar untuk menyiapkan makan malam dan ingin membiarkan putrinya sendiri. rumi menatap bunga mawar merah pemberian terakhir sandy. Semoga kamu bahagia disisiNya ya san. Aku janji akan melanjutkan hidupku.
Rumi beranjak menuju jendela kamar dan melihat bintang. Ada satu bintang yang paling terang sinarnya. Rumi coba tersenyum dan membayangkan bintang paling terang itu adalah sandy. Sandy selalu kasih cahaya penerang bagi hidupnya. Sandy bintang ku. Kamu adalah yang terbaik..
(backsound afgan – bunga terakhir)
SELESAI