LILIN KECIL
By: Rohmah cipzz
“lita, berani di kamar sendiri?” tanya seorang nenek kepada cucu satu-satunya.
“tidak apa-apa nek, aku udah berani, kan ada lilin kecil di meja” lita kecil menjawab dengan senyum polosnya.
“ya sudah, nanti kalau takut panggil nenek ya?”
“iya..”
Gadis kecil itu selalu bertekad untuk berani apa-apa sendiri. Harus mandiri. Ayahnya terlalu sibuk urusan pekerjaan, kerap tak ada waktu,bahkan untuk memperhatikannya sedetik saja. Hanya nenek yang selalu ada. Mama meninggal sewaktu melahirkannya. Ia hanya mengenal wajah cantik ibunya lewat foto album. Dan.... semakin hari neneknya semakin renta.
***
“ayah, tadi malem lampunya mati, tapi lita berani di kamar sendiri, dan untung ada lilin.. ,, jadi lita kayak di temani mama.”
“em,, lain kali kalau memang takut sendirian jangan di paksain di kamar sendiri ya. Ayah berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan sampai telat makan”
“iya yah.”
Sering hanya itu saja percakapan yang seharusnya terjalin akrab antara anak gadis satu-satunya dengan sang ayah. Kabar barunya, dua hari lagi ayahnya akan terbang keluar kota untuk mengurus bisnis baru.
***
“kamu tumben hari ini tidak menyalakan lilin?” tanya sang nenek.
“tidak nek, lilinnya habis. Belum di belikan ayah lagi”
“mau nenek belikan?”
“tidak nek, biar ayah yang membelikan”
***
“ayaaah... lilinku habis ,, beliin ya??”
“ayah sibuk lita. Minta mbak ijah yang beliin ya?”
“aku pengennya ayah yang membeli..”
“ayah sibuk lita, jangan keras kepala begitu, cobalah untuk mengerti posisi ayah..” nada suaranya mulai meninggi.
Gadis kecil itu kecewa dan segera berlalu pergi meninggalkan ayahnya.
***
“maafkan ayah ya.. ,, tadi ayah sedang suntuk sekali. Besok ayah akan belikan”
“tapi aku ikut..”
“dirumah saja ya jagain nenek?”
“nenek di ajak, pergi bertiga.. aku,ayah,nenek.. ,, aku pengen jalan-jalan yah..”
“ayah hanya punya sedikit waktu lita..”
“tapi aku pengen jalan-jalan..”
“kapan-kapan saja ya.., besok ayah belikan lilin dan kamu dirumah sama nenek”
***
“lita, mau kemana?” tanya nenek agak khawatir.
“mau jalan-jalan sebentar nek di taman dekat rumah”
“di temani sama mbak ijah ya?”
“tidak nek, lita kan sudah besar, pasti berani jalan-jalan sendiri”
“ya sudah.. pulangnya jangan lama-lama”
“dada nek..”
***
“sudah kamu cari kemana saja jah?”
“di mana-mana bu, di taman sudah. Sampai keliling kompleks sini sama sebelah berkali-kali. Tapi saya belum ketemu dik lita”
“aduh bagaimana ya? ,, masak sudah sore begini belum pulang juga. Aku takutnya dia nyasar. , atau kenapa-kenapa.. aduuh.. ,, aku bilang apa nanti sama anakku”
“coba nanti saya keliling dan tanya-tanya lagi bu”
Tiba-tiba.. ,,
Tok tok tok... ,,
“bu... bu sulaiman. ,, permisi bu, saya langsung masuk saja ya. Ini penting. ,, di sungai sedang ramai-ramai. Tadi di temukan anak kecil hanyut di sungai. Waktu saya amati wajahnya. Tampaknya saya tidak asing. Anak itu seperti cucu bu sulaiman.. maaf bu sebelumnya”
“MasyaAlloh... ,,,”
***
“litaaaa..... ,, tidak.... tidak mungkin... ,, kamu tidak mungkin pergi secepat ini.. ,, tidaaaak...” teriak pria berusia bapak-bapak muda itu,
END